thumb
  • 03 Jun, 2025 03:00 Pagi
  • Opini Dosen

Pancasila dan Maqāṣid Syariah: Menjaga Indonesia dengan Nilai-nilai Kemaslahatan

Oleh: Muhammad Aly Mahmudi, Lc., M.H. (Dekan FEBIS IAI TABAH Lalmongan)

_______________________________

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Bukan sekadar mengenang sejarah, tapi ini momen untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Di balik lima sila itu, ada semangat besar untuk menjaga kemaslahatan bersama. Menariknya, semangat ini sejatinya sangat selaras dengan konsep maqāṣid al-syarī‘ah dalam Islam—sebuah prinsip agung yang menempatkan keselamatan, keadilan, dan keberlanjutan hidup manusia sebagai tujuan utama.

Maqāṣid syariah mengajarkan bahwa inti dari syariat Islam adalah menjaga lima hal mendasar: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Konsep ini bersifat universal dan humanistik. Ketika Bung Karno dan para pendiri bangsa merumuskan Pancasila, mereka sebenarnya sedang menyusun semacam maqāṣid dalam bingkai kebangsaan. Seperti kata cendekiawan Muslim asal Mesir, Syekh Muhammad Abduh, bahwa “agama tidak akan tegak tanpa kebebasan dan keadilan.” Bukankah itu yang diperjuangkan dalam setiap sila Pancasila?

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah bentuk nyata dari ḥifẓ al-dīn, menjaga keberagamaan dengan semangat toleransi. Negara memberi ruang bagi semua agama untuk tumbuh, sebagaimana ajaran Islam yang tidak memaksa dalam keyakinan (Lā ikrāha fī al-dīn). Pemikiran seperti ini juga sejalan dengan pandangan John Locke, filsuf Barat, yang dalam Letter Concerning Toleration menegaskan bahwa negara yang sehat harus menjamin kebebasan beragama. Jadi, baik di Timur maupun Barat, menjaga ruang spiritual adalah prinsip dasar hidup bersama.

Kemudian, sila kedua hingga kelima mencerminkan maqāṣid lainnya: menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), harta (ḥifẓ al-māl), dan keturunan (ḥifẓ al-nasl). Pancasila menolak kekerasan, menjunjung kemanusiaan, dan mendorong keadilan sosial. Al-Imam al-Ghazali bahkan menegaskan bahwa hukum harus mengarah pada kemaslahatan; jika tidak, maka ia hanya jadi beban semata. Di sisi lain, Amartya Sen, ekonom dan filsuf India yang meraih Nobel, berbicara hal serupa: keadilan sejati adalah ketika manusia punya kesempatan berkembang secara adil dan merata.

Hari ini, ketika dunia makin terpecah oleh polarisasi identitas dan ekstremisme, kita butuh kembali kepada nilai-nilai yang mempersatukan. Pancasila dan maqāṣid sama-sama mengajak kita untuk hidup dalam etika kemanusiaan yang luhur. Tak perlu mempertentangkan antara religiusitas dan kebangsaan. Prof. Tariq Ramadan, pemikir Muslim Eropa, menyebut bahwa Muslim di negara non-Islam tidak harus menjadi "tamu", karena nilai Islam bisa hidup harmonis dalam sistem yang menjunjung keadilan dan moralitas. Itu pula yang terjadi di Indonesia lewat Pancasila.

Bagi umat Islam Indonesia, Pancasila bukan ancaman, tapi peluang untuk menampilkan Islam yang ramah, terbuka, dan berpihak pada kebaikan bersama. Justru, menjaga keutuhan bangsa melalui Pancasila adalah bagian dari menjalankan maqāṣid syariah secara kolektif. Kita menjaga negara bukan karena fanatisme sempit, tapi karena itulah bentuk nyata ibadah sosial yang diridhai.

Jadi, Hari Lahir Pancasila semestinya tidak hanya jadi ritual upacara, apalagi hanys tebar pesona untuk bentangkan poster, 0amflet ataupun flayer dengan tujuan yang lainnya,  tapi titik tolak untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemaslahatan dalam hidup berbangsa. Mari kita rawat Pancasila dan maqāṣid syariah bukan sebagai dua hal yang terpisah, tapi sebagai dua cahaya yang bisa menyinari jalan Indonesia ke depan—jalan damai, adil, dan penuh keberkahan.

Semoga dengan peringatan lahirnya pancasila walupun tanpa seremonial ini, kita bisa mengambil pelajran dari substansi yang dituangkan dengan tetap mengamini grand founder pendiri bangsa dalam mengamini pancasaila sebagai dasar negara dengan tanpa membenturkannya pada prinsip agama.


Tags :

Author

Humas IAI TABAH

#1 Empowering The Society: Excellent and Prestigious.

Partners