thumb
  • 18 Jul, 2025 14:33 Siang
  • Opini Dosen

Mbah Zakariya: Khatimin Tertua PP Sunan Pandanaran 2005, Bukti Cinta Tak Terbatas pada Al-Qur'an

Tahun 2005, selepas jamaah Isya’ menjelang setoran di GP (Gedung Putih) komplek satu PP Sunan Pandanaran Yogyakarta, itulah kali pertama saya mengenal sosok Mbah Zakariya. Duduk bersahaja di serambi masjid, dengan pakaian sederhana dan sorot mata yang teduh, beliau menyambut saya dengan senyum yang sulit dilupakan. Dari obrolan ringan yang perlahan mengalir, saya mulai menangkap pancaran ketulusan dan kesungguhan dari seorang lelaki paruh baya yang tengah menapaki jalan mulia: menghafal Al-Qur’an.

Meski usia kami terpaut jauh, pertemuan- pertemuan selanjutnya membuat kami kian akrab. Dalam setiap percakapan, terselip pelajaran berharga, nasihat yang meneduhkan, serta kisah-kisah yang menyentuh hati. Dari beliau, saya belajar bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya soal mengingat ayat demi ayat, tetapi juga soal kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam menjalaninya.

Hingga suatu malam, di sudut serambi yang sama, beliau membuka kisah yang tak pernah saya duga—kisah masa lalunya yang tak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga melahirkan semangat yang tak biasa. Beliau berkisah bahwa dirinya memiliki seorang putra yang saat itu masih duduk di bangku SMP. Harapan Mbah Zakariya begitu besar. Ia sangat mendambakan agar putranya kelak menjadi seorang hafizh Al-Qur’an. Cita-cita mulianya adalah, setelah lulus SMP, sang anak akan dipondokkan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, agar bisa mewujudkan harapan besar itu.

Namun takdir berkata lain. Sebuah musibah datang secara tiba-tiba dan merenggut seluruh harapan itu. Saat sedang bermain di lapangan belakang rumah, sang anak terjatuh ke dalam sumur dan meninggal dunia. Tragedi itu tak hanya mengguncang Mbah Zakariya sebagai seorang ayah, tetapi juga mematahkan impian mulia yang telah ia rajut dengan penuh cinta dan harap. Kisah ini menjadi salah satu kenangan paling membekas dalam kebersamaan kami di pesantren—kenangan yang membungkus duka dan harapan dalam satu bingkai yang begitu dalam.

Kehilangan anak yang sangat dicintainya seolah memutuskan segala asa. Namun, dari kepedihan yang tak terperi itu, justru muncul tekad yang lebih kuat. Mbah Zakariya mengambil keputusan yang mungkin tak banyak dilakukan orang. “jika sang anak tak sempat mewujudkan cita-cita menjadi hafizh, maka dirinya sendirilah yang akan menapaki jalan itu.” Dengan hati yang bulat, ia memutuskan untuk mondok di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dan menghafal Al-Qur’an langsung di bawah bimbingan Romo KH. Mufid Mas’ud—yang oleh para santri akrab disapa Bapak.

“Yo wes, lek ngono aku dewe sing mondok. Tak ngapalke Qur’an,” kenang saya, mengulang kalimat beliau kala itu. Kalimat sederhana, namun penuh makna dan kekuatan. Di balik keheningan suaranya saat mengucapkannya, tersimpan tekad yang menggetarkan hati—tekad seorang ayah yang memilih berjalan sendiri di jalan impian anaknya yang telah tiada.

Sekitar tahun 1990–1991, tekad itu membawanya melangkahkan kaki ke Pesantren Sunan Pandanaran. Dengan penuh kerendahan hati, beliau menemui/sowan Bapak untuk menyampaikan niat tulusnya: menghafalkan Al-Qur’an. Saat itu, usia beliau telah menginjak sekitar 50 tahun—usia yang bagi sebagian orang mungkin dianggap terlambat untuk memulai menghafal. Namun bagi Mbah Zakariya, usia bukanlah penghalang. Justru dari sanalah muncul pesan mendalam bahwa selama nafas masih berhembus, tak ada kata terlambat untuk memulai perjalanan bersama Al-Qur’an.

Selama kurang lebih dua tahun, beliau menjalani rutinitas pulang-pergi antara rumah dan pondok. Jarak yang tidak terlalu jauh memudahkannya untuk tetap menjalankan tanggung jawab di rumah, sembari terus berjuang menambah hafalan. Dalam kurun waktu itu, beliau berhasil mengumpulkan hafalan 15 juz. Namun, tidak mudah bagi beliau. "Tak satu pun yang lancar hafalannya, bahkan kepala rasanya ingin pecah," begitu ungkapnya suatu malam, menggambarkan betapa berat perjuangan yang harus ia jalani.

Saya pernah bertanya, “Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan, Mbah?” Dengan ketenangan yang begitu dalam, beliau menjawab, “Saya pasrahkan pada Allah.” Sebuah jawaban singkat, tapi sarat keikhlasan. Dalam kepasrahan itu, tergambar kekuatan iman yang luar biasa.

Ketika hafalan belum sepenuhnya lancar, Mbah Zakariya memutuskan untuk boyong. Ia pun berpamitan kepada Bapak. Menanggapi itu, Bapak hanya berkata lembut, “Yo wes, tak dungakke.” Sebuah kalimat doa yang mengandung restu dan pengertian mendalam dari seorang guru kepada muridnya. Bapak mungkin memahami bahwa Mbah Zakariya, di usia 50-an, adalah kepala keluarga yang tetap memikul tanggung jawab besar di rumah.

Meski telah boyong, semangat Mbah Zakariya tak surut. Di rumah, beliau menata ulang (ndandani) hafalan yang telah diperoleh. Dengan tekun dan sabar, beliau mengulang-ulang hafalannya, sambil tetap aktif dalam berbagai kegiatan Jam’iyyah di lingkungannya. Hafalan 15 juz yang sebelumnya tercecer, akhirnya berhasil beliau kuatkan dan lancarkan.

Juz 16 hingga 30 beliau lanjutkan di rumah. Setiap rutinan Jam’iyyah, beliau menyetorkan hafalan baru kepada rekan-rekannya. Uniknya, beliau tidak menghafal secara urut. Ia memilih juz-juz tertentu sesuai dengan kenyamanan dan suasana hati. Begitu satu juz selesai, langsung ia bacakan dalam majelis rutinan Jam’iyyah, seolah ingin menyampaikan bahwa perjuangan menghafal bisa menjadi syiar, bisa menjadi semangat bagi siapa pun yang mendengarnya.

Sekitar tahun 2000, seluruh hafalan 30 juz Al-Qur’an pun rampung. Meski demikian, dengan kejujuran dan kerendahan hati, beliau mengakui bahwa hafalannya belum benar-benar lancar. Masih banyak bagian yang menurutnya belum siap disimak.

Menjelang acara khataman tahun 2005 di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Mbah Zakariya kembali datang. Beliau sowan kepada Bapak, menyampaikan niat untuk dikhatami. Namun, Bapak meminta agar beliau menyetorkan hafalan 30 juz terlebih dahulu.

Waktu yang mepet tak membuat beliau gentar. Proses setoran dilakukan secara maraton. Di sela-sela pengajian, Bapak menyimak hafalan beliau sambil tetap membimbing santri lain. Ketika waktu tak lagi memungkinkan, Bapak meminta santri senior untuk menyimak setoran beliau, salah satunya adalah Kyai Ahsan Nadhif dari Gresik.

Setelah menyetorkan hafalan lengkap, Mbah Zakariya masih harus menjalani tahap simaan gelondongan—membaca hafalan 30 juz dalam satu majelis. Namun, mengingat usianya yang sudah menginjak 63 tahun, beliau mengajukan permohonan agar simaan dibagi dalam dua majelis. Permohonan itu pun dikabulkan.

Akhirnya, dengan penuh keikhlasan dan ketekunan, beliau menyelesaikan seluruh tahapan dan diwisuda sebagai khatimin Al-Qur’an pada tahun 2005. Beliau tercatat sebagai khatimin tertua sepanjang sejarah Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Pencapaian yang tak hanya mengharukan, tetapi juga membuktikan bahwa tekad dan cinta kepada Al-Qur’an tak mengenal usia.


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Pada Kamis malam, 17 Juli 2025, pukul 23.30 WIB, Mbah Zakariya wafat di RS Sardjito Yogyakarta dalam usia 83 tahun. Beliau tinggal di Babadan Baru Gg. Anggrek II No. 21, Depok, Sleman, Yogyakarta. Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya, Jumat, 18 Juli 2025, pukul 14.30 WIB, di Pemakaman Kolombo, Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Kepergian beliau menyisakan duka yang dalam, namun juga meninggalkan jejak inspiratif yang tak ternilai. Kisah hidup Mbah Zakariya adalah bukti nyata bahwa cinta kepada Al-Qur’an tak mengenal usia, dan bahwa tekad serta keikhlasan mampu melampaui batas-batas duniawi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di sisi-Nya bersama para kekasih-Nya.


Lamongan, 18 Juli 2025

Moh. Mauluddin, S.Ud., M.Ag.
(Dosen Tetap IAI TABAH Lamongan, Alumni PP Sunan Pandanaran Sleman Yogyakarta/Khatimin tahun 2006)


Tags :

Author

Humas IAI TABAH

#1 Empowering The Society: Excellent and Prestigious.

Partners