thumb
  • 17 Agt, 2025 14:57 Siang
  • Opini Dosen

Empati dan Kemerdekaan Batin: Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka


Oleh: Dr. Alimul Muniroh, M.Ed.*


Pagi itu, udara terasa berbeda. Di sebuah lapangan kecil desa, anak-anak usia sekolah dasar berlari membawa bendera merah putih, sementara para orang tua tersenyum bangga. Lantunan lagu kebangsaan berkumandang, menggema di antara pepohonan. Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Usia yang tak lagi muda bagi sebuah bangsa, namun setiap kali perayaan kemerdekaan tiba, rasanya selalu baru. Semarak lomba-lomba, karnaval, dan upacara dilaksanakan dengan gegap gempita, namun di balik semua itu, mari kita merenung: sudahkah kemerdekaan yang kita rayakan ini juga berarti kemerdekaan jiwa dan ketenteraman batin bagi setiap warganya?

Merdeka secara lahir memang telah kita raih, namun merdeka secara batin masih menjadi pekerjaan rumah bersama, sebagaimana tergambar dalam berbagai data kesehatan mental bangsa ini. Tantangan ini terlihat jelas dari berbagai temuan survei dan laporan kesehatan mental di Indonesia. Data hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi depresi di Indonesia adalah 1,4%. WHO 2025 mencatat bahwa 1 dari 7 anak berusia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku menjadi penyebab utama.  Sementara itu, Survei I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) tahun 2022 menemukan sebanyak 15,5 juta atau sekitar 34,9% remaja mengalami masalah serupa.

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang membuat kita terhubung 24 jam, namun banyak orang justru merasa kesepian. Media sosial memang membuat kita saling melihat, saling terhubung tetapi tidak selalu membuat kita saling memahami. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan kemerdekaan yang kita nikmati belum otomatis menghadirkan kedekatan emosional, sehingga dibutuhkan sesuatu yang mampu memulihkan rasa saling memahami di tengah masyarakat. 

Di sinilah empati menjadi penting. "Empathy is the bridge that connects hearts" — empati adalah jembatan yang menghubungkan hati. Tanpa empati, kita mudah terjebak dalam dunia yang penuh penghakiman, komentar pedas, dan jarak emosional. Padahal, para pendiri bangsa mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah kebersamaan, bukan kemenangan atau bahkan kepuasan segelintir orang.

Di era digital, interaksi manusia semakin banyak terjadi melalui layar. Pesan singkat, komentar media sosial, dan unggahan foto sering kali menjadi jembatan komunikasi, namun sekaligus juga dinding yang membatasi pemahaman mendalam. Tanpa empati, mudah bagi kita untuk menafsirkan kata atau gambar secara keliru, memicu kesalahpahaman bahkan konflik. Polarisasi pendapat yang tajam di media sosial, ujaran kebencian, hingga perundungan daring menjadi bukti bahwa teknologi saja tidak cukup untuk membangun kedekatan emosional. Empati berfungsi sebagai “rem” yang menahan kita untuk tidak tergesa-gesa menghakimi, sekaligus menjadi “jendela” yang membuka pemahaman terhadap perasaan dan sudut pandang orang lain.

Lebih jauh, rendahnya empati di era digital dapat memperlebar jarak sosial meski kita secara teknis terhubung 24 jam. Fenomena scrolling tanpa henti membuat kita melihat banyak cerita orang lain, tetapi jarang benar-benar mendengarkan atau memahami maknanya. Algoritma media sosial cenderung memperkuat gelembung informasi (echo chamber), membuat kita hanya berinteraksi dengan orang yang sepemikiran, sehingga sensitivitas terhadap perbedaan pun menurun. Di tengah arus informasi yang deras, empati menjadi kompas moral yang menuntun kita untuk tidak hanya mencari kebenaran bagi diri sendiri, tetapi juga kebaikan bersama. Dengan empati, teknologi bisa menjadi alat pemersatu, bukan pemecah belah.

Batin yang Merdeka

Merdeka lahir saja belum cukup. Kemerdekaan batin berarti bebas dari kebencian, dendam, rasa curiga berlebihan, dan beban pikiran yang menggerogoti kebahagiaan. Batin yang merdeka adalah batin yang tenang, mampu menerima perbedaan, dan tidak mudah terpancing amarah. Di dunia yang serba cepat ini, kadang yang kita butuhkan bukan jawaban, tetapi telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi—sebuah bentuk empati yang sederhana namun mendalam.

Bayangkan ketika seorang siswa setiap hari duduk di bangku belakang kelas, wajahnya murung, nilai pelajarannya menurun. Atau seorang rekan kerja yang tiba-tiba lebih banyak diam. Mungkin mereka tidak akan langsung menceritakan masalahnya, tetapi sebuah sapaan tulus atau pertanyaan sederhana, “Apa kabar hari ini?” bisa menjadi penolong dalam senyap. Small acts of kindness can make a big difference—tindakan kecil penuh kebaikan bisa membawa perubahan besar. Kemerdekaan batin lahir dari hubungan yang saling menguatkan seperti ini, di mana setiap orang merasa dilihat, didengar, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Pentingnya batin yang merdeka terletak pada kemampuannya menjadi pondasi bagi segala aspek kehidupan. Orang dengan batin yang merdeka lebih mampu mengambil keputusan bijak, membangun relasi yang sehat, dan menghadapi tekanan hidup tanpa kehilangan arah. Sebaliknya, batin yang terbelenggu oleh prasangka dan luka emosional mudah terguncang oleh masalah kecil dan rentan terhadap stres berkepanjangan. Dalam konteks bangsa, warga dengan batin yang merdeka akan lebih siap bekerja sama, saling mendukung, dan menjaga persatuan di tengah perbedaan. Kemerdekaan batin bukan hanya hadiah untuk diri sendiri, tetapi juga kontribusi nyata bagi keharmonisan masyarakat.

Empati Sebagai Bentuk Syukur

Empati adalah salah satu wujud syukur paling nyata atas anugerah kemerdekaan. Delapan puluh tahun lalu, para pahlawan rela mengorbankan jiwa dan raga agar kita terbebas dari belenggu penjajahan. Membalas pengorbanan itu tidak selalu harus dengan hal besar; ia bisa dimulai dari kepedulian sederhana dalam kehidupan sehari-hari—menengok tetangga yang sakit, menyapa petugas kebersihan dengan tulus, atau sekadar mendengar cerita seorang teman tanpa menghakimi. Tindakan-tindakan kecil ini adalah cara kita menjaga ikatan kemanusiaan, yang pada gilirannya memperkuat persatuan bangsa.

Kemerdekaan ke-80 ini menjadi pengingat bahwa kebebasan sejati bukan hanya kemerdekaan lahir yang diraih lewat perjuangan fisik, tetapi juga kemerdekaan batin yang hadir ketika kita hidup damai dengan diri sendiri dan menghargai orang lain. Bangsa yang warganya saling memahami dan peduli akan lebih kokoh menghadapi tantangan zaman, baik dalam bentuk krisis ekonomi, disrupsi teknologi, maupun perbedaan pandangan.

Di tengah sorak-sorai lomba, karnaval, dan kibaran bendera, mari kita ingat: menjaga empati berarti menjaga kemerdekaan batin—dan inilah pondasi kesehatan mental serta ketahanan sosial bangsa. Kemerdekaan lahir memberikan kita ruang untuk bergerak, sementara kemerdekaan batin memberi kita arah dan makna. Dengan keduanya, kemerdekaan menjadi utuh, dan syukur kita kepada para pendiri bangsa benar-benar hidup dalam tindakan.


*Penulis adalah Rektor IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan, Wakil Ketua I PW Fatayat NU Jawa Timur



Tags :

Author

Humas IAI TABAH

#1 Empowering The Society: Excellent and Prestigious.

Partners