Berkah Doa Guru: Dari Catatan Dikte Mbah Yai hingga Scopus Q1
*Ditulis oleh: Moh. Mauluddin, M.Ag. (Dosen Tetap IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan)
-----
Sekitar tahun 2006–2007, waktu saya mondok di Pesantren Sunan Pandanaran, di bawah asuhan Romo KH. Mufid Mas’ud, yang oleh para santri dipanggil Bapak. Hari-hari kami penuh dengan kegiatan; setoran hafalan Al-Qur’an, pengajian Tafsir Jalalain, Jawahirul Bukhari, dan Nazam Sullam Taufiq. Namun, ada satu pengajian yang istimewa, tanpa kitab pegangan, langsung disampaikan oleh Bapak sendiri.
Saya masih mengingatnya dengan jelas. Biasanya, selepas setoran hafalan Al-Qur’an ba’da Isya’, Bapak memanggil saya untuk mendikte materi pengajian yang akan disampaikan esok pagi. Kadang, tidak menunggu malam, beliau memanggil saya pada sore harinya. Setelah mendikte, Bapak memeriksa catatan saya, memastikan setiap kata tepat. Catatan itu kemudian saya serahkan kepada sahabat saya, Kiai Mustamar dari Lampung, yang menuliskannya di papan tulis pondok karena khat Arabnya jauh lebih indah.
Materi pertama yang beliau diktekan masih lekat dalam ingatan saya:
نَصِيحَةُ الْحَبِيبِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَلَوِي الْحَدَّاد
عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ # وَقَلْبَكَ نَظِّفْهُ مِنَ الرِّجْسِ وَالدَّرَنِ
(Senantiasalah bertakwa kepada Allah, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan; dan sucikanlah hatimu dari segala kotoran dan noda) sampai beberapa nazm berikutnya.
Bertahun-tahun kemudian, Allah menakdirkan saya menapaki dunia akademik. Tahun ini, sebuah artikel ilmiah saya berhasil terbit di jurnal internasional bereputasi Scopus Q1. Kabar itu saya sampaikan kepada sahabat saya, KH. Ahmad Zainih Jakarta yang akrab disapa Bang Zen. Ia membalas dengan kalimat yang membuat saya terdiam lama:
“Terlintas, saat kang Mauludin ditimbali Abah Mufid, diminta menulis kalimat yang beliau diktekan. Sekarang, karya tulis santri beliau bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh orang banyak...”
Pesan itu mengingatkan saya, keberhasilan ini bukan semata buah usaha pribadi. Namun, ada keberkahan ilmu, keteladanan, dan doa guru yang terus mengalir. Dari catatan sederhana hasil dikte di ndalem Bapak, kini tulisan itu menembus panggung akademik dunia.
Segala puji bagi Allah, dan terima kasih tak terhingga untuk para guru, khususnya Bapak, Romo KH Mufid Mas’ud. Semoga setiap huruf yang tercetak menjadi amal jariyah bagi beliau, dan keberkahan itu terus mengalir kepada semua santrinya.
Akhirnya, saya juga ingin menitipkan doa dan harapan untuk sahabat-sahabat saya, para dosen di IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan. Semoga Allah segera memudahkan langkah dan membuka pintu keberhasilan untuk menerbitkan artikel di jurnal bereputasi Scopus, sehingga karya-karya kita bisa menjadi cahaya ilmu yang bermanfaat bagi umat. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.
Izza and 6098 orang menyukai Postingan ini.