BEM IAI TABAH dan Lesbumi Lamongan Gelar Halaqoh Ekologi: Nobar Film "Pesta Babi" Jadi Ruang Refleksi Krisis Lingkungan
Berita IAI TABAH — Auditorium Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) Lamongan menjadi saksi lahirnya ruang dialektika yang mendalam melalui kolaborasi antara Lesbumi PCNU Lamongan dan BEM IAI TABAH pada Kamis, 23 April 2026. Kegiatan bertajuk Halaqoh Ekologi ini dikemas secara kreatif melalui nonton bareng film “Pesta Babi” yang mengusung tema berani, “Kolonialisme di Zaman Kita”. Agenda ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang mencoba membedah keterkaitan antara isu ekologi, keadilan sosial, dan praktik kolonialisme modern yang sering kali tersembunyi di balik dalih pembangunan. Film “Pesta Babi” sendiri menjadi pemantik diskusi yang tajam karena menggambarkan realitas eksploitasi sumber daya alam dan ketimpangan relasi kuasa yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat lokal.
Didin Ahmad Zaenudin selaku Ketua Lesbumi PCNU Lamongan menegaskan bahwa halaqoh ini adalah bagian dari upaya membangun kesadaran publik melalui pendekatan kultural yang menyentuh sisi emosional sekaligus rasional. Menurutnya, krisis lingkungan saat ini tidak bisa dipisahkan dari praktik eksploitasi alam yang mengabaikan nilai kemanusiaan, sehingga film menjadi medium efektif untuk mengajak masyarakat melakukan refleksi mendalam atas kerusakan yang terjadi. Senada dengan hal tersebut, Ketua BEM IAI TABAH, Moh. Afif Saifullah Arif, menekankan bahwa mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam memahami persoalan lingkungan bukan hanya sebagai isu teknis, melainkan sebagai isu keadilan yang nyata.
Kehadiran Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan IAI TABAH, Dr. Fithrotin, M.Th.I., memberikan bobot moral tersendiri dalam forum tersebut. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para mahasiswa dan Lesbumi yang telah menginisiasi ruang kritis ini. Dalam pesannya yang menyentuh, Dr. Fithrotin menekankan bahwa menjaga kelestarian alam adalah bagian dari tanggung jawab iman dan kemanusiaan. Beliau berharap kegiatan ini mampu menggeser cara pandang mahasiswa terhadap alam agar tidak lagi dianggap sebagai objek komoditas semata, melainkan bagian dari ekosistem kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Beliau memuji keberanian mahasiswa dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti konflik agraria dan dampak industrialisasi sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kecil.
Diskusi pun berkembang menjadi sangat dinamis saat para peserta mulai mengaitkan narasi film dengan realitas di lapangan, mulai dari persoalan etika hingga kebijakan lingkungan yang sering kali timpang. Melalui sinergi antara nilai agama, budaya, dan kesadaran sosial, halaqoh ekologi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai diskusi di ruang tertutup, tetapi menjelma menjadi gerakan kolektif yang mendorong lahirnya kebijakan dan gaya hidup yang lebih ramah terhadap lingkungan. Semangat yang dibawa oleh Lesbumi PCNU Lamongan dan BEM IAI TABAH ini menegaskan bahwa perjuangan melawan kolonialisme modern dimulai dari kesadaran untuk menjaga tanah dan air dari keserakahan yang merusak.
Merrie and 5926 orang menyukai Postingan ini.