Himpunan Mahasiswa program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir (Himaprodi IAT) Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI Tabah) Kranji, Paciran Lamongan, mengadakan diskusi publik “Bedah pemikiran konsep Milk al Yamin Muhammad Syahrur dalam disertasi Abdul Aziz”. Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja Himaprodi IAT yang dilaksakan setiap satu bulan sekali. Kegiatan tersebut bertempat dikampus putih Institut Tarbiyatut Tholabah pada hari rabu (23/10/2019).
Ketua program Studi Ekonomi Syari’ah, Ahmad Masyhadi, M.HI, dan ketua program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, Moh. Nasrul Amin, M.Pd.I, turut hadir menjadi narasumber dalam acara tersebut. Kegiatan tersebut diawali dengan pembukaan yang dipimpin oleh M. Taufik (IAT VI) selaku moderator, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Al Qur’an dan Tafsir,  disusul sambutan ke-dua oleh koordinator kajian dan sambutan yang terakhir disampaikan oleh ketua Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir.
Narasumber pertama, mengungkapkan bahwa Milk Al Yamin tidak lagi dianggap perbudakan oleh Syahrur, perbudakan menurutnya tidak lagi diperbolehkan. Al qur’an sebagai ayat suci harus ditafsirkan ulang agar Alqu’ran Shohih likulli zaman wal makan. Konsep  perbudakan pada saat ini sudah tidak ada. Sedangkan, narasumber kedua menanggapi bahwa, Milk Al Yamin di era sekarang harus dimaknai ulang, mengenai budak boleh disetubuhi, padahal tidak bersuami istri dan tidak ada akad pernikahanya.
M. Khoirul Fatih, M.Ag., ketua LP2M Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI Tabah), sekaligus alumni UIN Sunan kalijaga, menambahkan bahwa menurutnya tidak mudah untuk memahami pemikiran Muhammad Syahrur. “Apa yang dilahirkan dalam penelitian belum tentu memiliki kebenaran yang absolut dan historal, itulah penelitian,teori dinamis dan bisa dikritik diruang akademik”, tuturnya.
Diskusi tersebut berlangsung kurang lebih selama 3 jam, yakni selesai pada pukul 16.00 WIB.(Putri dan Bandi)