Alhamdulillah prodi PAI Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) Lamongan berkesempatan mengikuti Seminar Lokakarya yang di adakan oleh Perkumpulan Prodi PAI se-Indonesia yang dilaksanakan oleh PP PAI-I di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang ditempatkan di Syari’ah Radho Hotel pada tanggal 26-28 Juni 2019.

Hadir dalam kegiatan tersebut beberapa tokoh Nasional dan sesepuh akademisi, utamanya dari kalangan PTKI, di antaranya Prof. Dr. H. Imam Suprayogo (Guru Besar dan Mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ), Prof. Dr. H. Dede Rosyada (Guru besar dan Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. Imam Syafe’i (Sekretaris Dirjen Diktis Kemenag RI), Prof. Dr. H. Mansyur Ramli (Majlis BAN PT Kemeristek Dikti), dan  beberapa perwakilan Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang .

PPPAII yang saat ini digawangi oleh Dr. Abd Majid Khon (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) sebagai ketua dan Dr. Marno (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ) selaku Sekretaris, mengusung beberapa isu Nasional yang saat ini berkembang saat ini, diantaranya reorientasi Kurikulum Prodi PAI dalam merespon Program Profesi Guru (PPG), Revolusi Industri 4.0, Radikalisme (berdasar atas hasil riset PPIM (Uin Jakarta) dan  CISForm (Uin Yogyakarta) serta bebrapa survey laing yang lain yang meyatakan lulusan PAI hampir 50% terpapar radikalisme), serta Kebijakan Akreditasi Program studi sembilan kriteria (IAPS 4.0)

Acara yang diikuti oleh hampir seluruh pengelola Prodi PAI Se-Indonesia baik Negeri maupun swasta ini ini didesain dengan bebagai sajian kegiatan, mulai dari FGD Penguatan kelembagaan dan Peran PPPAII yang baru berdiri pada tahun 2017 pada kegiatan awal di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pertemuan selanjutnya di UIN Sulthan Syarif Kasim Riau, pertemuan ketiga di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lebih banyak penguatan pada Prodi PAI di seluruh Indonesia di samping beberapa resuffle kepengurusan karena beberapa pegurus tidak lagi sebagai pengelola prodi, atau bahkan pindah home base, Seminar Nasional yang membahasa isu-isu strategis oleh beberapa tokoh Nasional, dan Lokakarya yang merupakan tindak lanjut pembahasan isu-isu strategis yang dibagi menjadi bebrapa komisi sesuai isu lalu diplenokan untuk kemudian menghasilkan beberapa rekomendasi.

Dr. H. Zainuddin, MA selaku Warek I UIN Maulana Malik Ibrahim Malang  dalam sambutan among tamunya menyatakan bahwa Prodi PAI adalah Prodi yang paling bertanggungjawab atas radikalisme, maka dalam forum PPPAII  harus menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang menjawab problem tersebut, termasuk menjawab tantangan revolusi industri serta kebijakan-kebijakan yang dalam satu sisi ingin mempermudah dan meringankan biaya akan tetapi justru mengurangi hikmah dari pendidikan Islam sendiri, misal PPG dengan model daring atau proses pembelajaran E-Learning yang memangkas proses tatap muka (muwajahah) antara murid dan guru, mahasiswa dengan dosen. Proses ini jelas menghilangkan konsep keberkahan dalam proses pendidikan agama, belum lagi keterbatasan jaringan yang banyak dikeluhkan oleh para peserta PPG, imbuhnya lagi bahwa pendidikan model pesantren adalah pendidikan yang terbaik dengan pendekatan tahfidz nadhoman atau materi yang disajikan dalam bentuk lagu merupakan produk lama tetapi sampai sekarang hal tersebut justru merupakan salah satu bentuk pembelajaran quantum yang dijadikan pilihan saat ini. Persoalan bangsa saat ini meliputi tiga hal yakni Narkoba, Korupsi, dan ekstrimisme (sinonim: radikalisme, fundamentalisme, dan ektrimisme) termasuk pula teknologi informasi yang membuka lebar terhadap berbagai macam informasi tanpa batas, bagi pendidikan   ini adalah tantangan besar maka pendidikan Agama Islam kedepan harus lebih Indonesia, inklusif,dan humanis.

Kritik Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku keynote speaker dalam FGD Prodi PAI mempertanyakan tentang pendidikan, apakah beragama itu selesai lewat pendidikan? Jika ya, maka guru SMA/MA adalah lebih baik dalam keberagamanya, Doktor, Profesor apalagi, mestinya para akademisi dengan pangkat golongan yang lebih seharusnya lebih baik dalam agamanya, para tokoh nasional juga bukan orang yang tidak berpendidikan, mereka rata-rata S1-S2 bahkan Profesor akan tetapi perilaku korupsi justru adalah para tokoh tersebut. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan utama adalah tetap keluarga, maka peranan ibu adalah yang utama sebagai orang yang paling dekat dengan anak, lebih lanjut untuk menginternalisasikan pendidikan agama adalah dengan pendekatan kesadaran diri; kesadaran tentang apakah aku, siapakah aku, untuk apa aku, dan sterusnya yang akan membawa kepada kedisplinan dan tanggungjawab sebagai muslim, sehingga dalam pembelajaran hendaknya lebih mendahulukan kesadaran, minat dan motivasi mahasiswa dari pada materi.  Kunci pendidikan agama yang tidak kalah penting adalah Sholat Khusyu, lalu bagaimanakah sholat khusyu? Sholat khusyu’ adalah mereka yang dalam sholatnya yakin bahwa mereka sedang berhadapan dengan Allah dan yakin bahwa merekan akan kembali kepada-Nya (Alquran 2:45-46), Inilah distingsi antara PTU dan PTKI.

Prof. Dr. H. Mansyur Ramli dalam penyampaianya tentang akreditasi IAPS 4.0, menyampaikan bahwa dalam perubahan kebijakan Akreditasi BAN PT tersebut, BAN PT , terkena gelombang tsunami Borang, sekitar 8100 borang yang masih pada April 2019. Bukan tanpa alasan para pengelola PT mengejar Akreditasi 7 kriteria karena ada bebrapa perubahan masif dalam akreditasi 9 kriteria, akan tetapi hal tersebut tidak perlu terlalu dirisaukan karena hal tersebut dilakukan dalam rangka untuk peningkatan kualitas mutu standart PT di Indonesia. Ada pemahaman yang kurang pas dianatra para pengelola PT, yang sebenarnya terjadi adalah perubahan dari 7 standart ke 24 standart (8 standart Nasional, 8 standart pendidikan, dan 8 standart penelitian penelitian dan pengabdian masyarakat) yang kemudian di rangkum menjadi 9 kriteria. Perbedaan mendasar dari 7 ke 9 Kriteria adalah dari yang asalnya berorientasi pada uot put menjadi orientasi out came, dari sebelumnya yang hanya merupakan konfirmasi pengelolaan PT pada pembukatian pelaksanaan fisik kepada pembuktian pelaksanaan dan tindak lanjut atau efek strategis dari kegiatan pengelolaan Perguruan Tinggi.  Pada IAPS 4.0 terdiri dari dua berkas yakni LKPS (Laporan Kinerja Program Studi) yang memuat data kuantitatif dan LED ( Laporan evaluasi Diri) yang memuat deskripsi evaluasi komprehensif dari pelaksanaan program studi, adapun prosentase penilaian dari dua berkas tersebut lebih besar porsi LED, 53%;47%. Perbedaan juga terdapat peda nilai akhir akreditasi; yakni Unggul (>361), Sangat Baik (301-360), dan Baik (200-300).

Sementara Prof. Dr. H. Dede Rosyada menginisiasi beberapa poin untuk reorientasi kurikulum dalam rangka menghadapi era industri 4.0 dan radikalisme. Secara umum beliau menyatakan bahwa efek yang paling besar dari era industri 4.0 adalah banyaknya pengurangan tenaga manusia, semuanya akan tergantikan oleh mesin, indikatornya terdiri dari CPS, IoT, dan IoC. Untuk hal tersebut generasi kedepan harus Inklusif dan bisa bekerjasama, Mampu berkomunikasi, dan Kreatif serta Inovatif. Beliau menambahkan bahwa tugas pokok PAI ada 5 hal, yakni membentuk anak generasi yang beriman, bertaqwa,berahlak mulia, toleran, dan terakhir generasi yang mempu mengintegrasikan keilmauan dan keempat hal tersebut kedalam profesinya. Untuk generasi 4.0 adalah generasi yang kreatif yakni bringing imagination in to,  kreatif bukan hanya pemikiran tetapi bagaimana ide menjadi sebuah gerak/produk nyata yang bermanfaat. Untuk itu pembelajaran dalam era 4.0 haruslah ; open up lesson, Think outside of classroom, Get personal, tap to dgital exercise, and Get real with project. (r)