Membaca puisi dengan penghayatan yang total dan ekspresif, agar substansi puisi tersebut dapat tersampaikan kepada pendengar (dok. Teater Ilat 2019)

Membaca puisi di depan pendengar atau audiens pada hakekatnya adalah masuk dalam kategori membaca ekspresif. Maksud dari hal ini adalah selain memahami apa yang termuat dalam puisi yang dibaca, pembaca juga harus bisa mengekspresikan apa yang termuat dalam puisi yang dibaca. Sebagai contoh, ketika seseorang membaca puisi yang bertemakan kesedihan, bencana, ataupun kesengsaraan maka pembaca puisi pun harus membaca dengan ekspresi sedih ataupun prihatin, penuh dengan penghayatan yang total agar substansi puisi tersebut tersampaikan kepada pendengar. Akan sangat lucu ketika membaca puisi kesedihan seseorang membacakannya dengan ekpresi riang gembira. Oleh karena itu, sebelum membaca puisi seseorang juga harus memahami apa isi puisi yang akan dibaca. Membaca puisi juga bukan hanya kegiatan melisankan puisi saja melainkan lebih pada upaya mengekspresikan perasaan dan jiwa yang ditangkap dari puisi yang dibaca. Membaca puisi (poetry reading) merupakan suatu usaha menyampaikan pesan kepada pendengar dengan cara yang setepat-tepatnya (sesuai dengan tuntutan puisi itu sendiri) untuk membawakan seluruh nilai-nilai puisi tersebut sesuai dengan yang dimaksudkan penyairnya. Nilai yang dimaksudkan dapat berupa informasi/pesan dan cerita (sebagai kandungan dalam) dan perangkat alat kebahasaan (sebagai kandungan luar). Dalam membaca puisi yang terpenting adalah bagaimana agar nilai-nilai yang ada menjadi hidup dan dihidupkan sehingga tercapai tujuan-tujuan yang berada dalam kerangka komunikasi gagasan maupun komunikasi estetik. Tingkat tertinggi estetika sebuah bahasa dapat diwujudkan melalui puisi. Puisi tak sekadar berhenti pada kata-kata yang bisa dinikmati secara personal semata. Akan tetapi, keindahan puisi dapat dinikmati secara kolektif apabila puisi itu dibacakan dengan merdu dan penuh penghayatan. Dalam rangka apresiasi puisi tersebut, Teater Ilat IAI TABAH mengadakan Lomba Baca Puisi tingkat MA/SMA/SMK se-Kerasidenan Bojonegoro, dalam rangka Dies Natalis Teater ILAT IAI TABAH dan IAI TABAH ke-2, tetaplah semangat berproses, aku berkarya maka aku ada (07/03/2019).  “Semoga lomba baca puisi ini tetap ada dan dapat diperluas area perlombaannya,“ Mahasiswa yang bisa mengapresiasi karya sastra berbentuk puisi ini dapat halus pekertinya. Sebab, karya sastra–termasuk puisi—kaya akan pesan moral/ pendidikan karakter dan estetika. Salam Budaya! (shc)